Pagi ini jam 04.30
Kabut tebal menyelimuti sabana ini.Cuaca sedikit tidak menentu,kadang hujan turun dengan deras menyapu kabut membungkam sepi kemudian berhenti dan berlanjut tanpa jeda. Dingin ini, kesepian ini, ketakpastian hati ini telah membawa seorang pencinta berangkat kepegunungan mencari ketenangan jiwa.
Dia mencari jati diri, yang belakangan ini pergi darinya.
Dia ingin menjadi sosok yang menyenangkan, mengagumkankan untuk semua orang, tetapi dia salah, dia berubah menjadi diri orang lain.
Saat ini musim pancaroba bagi alam.
Dalam selimut kabut tebal, dia berkaca dan mencoba menembus pekat dan gelapnya pagi.
Dia melihat dirinya sendiri, duduk termenung diatas batu besar, licin dan dingin.
tangannya mengeluarkan sebuah kertas dan membacanya.
dia menangis..
Airmata jatuh dari pelupuk mata yang kelihatan sudah lelah menjalani kisah ini.
Dia merasa telah memperjuangkan apa yang sepatutnya diperjuangkan, tetapi apa yang didapatnya?
Kesakitan, kelelahan hati, lelahnya jiwa karena sifatnya...
kemudian dia berpikir kematian yang akan menyelesaikan semua ini.
kemudian.., kemudian dia menangis kembali.
Kali ini bukan airmata yang menetes,
tetapi darah..!
Merah, berbau amis dan menjijikkan.
harapannya bahwa banyak orang akan menghargainya, termasuk perempuan itu.
Kini semua tinggal harapan hampa. dia tertinggal oleh perempuan itu, tertinggal dan terlindas sang waktu.
Demikianlah kebodohan kita!
Manusia adalah jiwa-jiwa bebas laksana gunung-gunung tinggi nan agung.
cinta telah mempesonakan kita! hingga kita menjual diri
untuk sekedar menikmati kepalsuannya.
Sir V@y Egar
